Sebagai sebuah Ordo Religius dalam Gereja Katolik, Serikat Jesus Provinsi Indonesia memiliki berbagai karya serikat. Salah satu karya Serikat Jesus Indonesia adalah pendidikan.
Karya pendidikan Serikat Jesus Indonesia pada jenjang pendidikan menengah hadir melalui delapan kolese yang tersebar di seluruh Indonesia.
Sekolah-sekolah ini tidak hanya menjadi tempat bagi siswa untuk belajar dan mengembangkan kemampuan akademis, tetapi juga menjadi ruang untuk membangun karakter, kepedulian, persahabatan, dan semangat melayani sesama.
Karena berada dalam satu keluarga pendidikan Jesuit, para siswa dari berbagai kolese memiliki kesempatan untuk saling bertemu dan mengenal satu sama lain melalui Temu Kolese.
Sebuah ruang
untuk berjumpa.
Temu Kolese adalah ajang pertemuan bagi siswa-siswi sekolah Kolese Jesuit di seluruh Indonesia.
Temu Kolese, atau Tekol, melibatkan para peserta dari Kolese Gonzaga, Kolese Kanisius, Kolese PIKA, Kolese Loyola, Seminari Mertoyudan, Kolese Mikael, Kolese De Britto, dan Kolese Le Cocq D’Armandville.
Melalui acara Temu Kolese ini para siswa-siswi diajak untuk bertemu dan menjalin persahabatan dalam kegiatan olahraga, kesenian, refleksi dan perutusan.
Tekol 2026 akan berlangsung di SMA Kolese Loyola Semarang pada tanggal 12–16 Oktober 2026.
Dari tiga kolese,
menjadi satu keluarga.
Pada awalnya Temu Kolese diinisiasi oleh para pamong kolese agar para siswa-siswi Kolese Jesuit Indonesia bertemu dan berkolaborasi.
Pater Baskoro Poedjinoegroho, Delegat Pendidikan Serikat Jesus, bercerita bahwa kegiatan ini bermula dari tiga kolese besar: Kolese De Britto, Kolese Loyola, dan Kolese Kanisius.
Ketiga kolese tersebut saling berkunjung dari satu kolese ke kolese lain secara bergantian.
Kemudian para pamong menginisiasi pertemuan seluruh kolese Jesuit Indonesia secara rutin pada tahun 1980-an.
Walau sempat terhenti karena pandemi, Temu Kolese masih berlanjut hingga tahun ini.
Sebuah ruang untuk bertemu
Bertemu. Mengenal.
Bersahabat.
Satu keluarga pendidikan Jesuit
Saatnya membuat
keributan.
Temu Kolese tahun 2026 mengangkat tema “Fate Chiasso”.
Tema ini diangkat dari seruan Paus Fransiskus terhadap anak muda: “Buatlah keributan di keuskupan-keuskupan, teriakanlah dengan hatimu” dalam Christus Vivit artikel 143.